Keyakinan dalam Dharma

February 2, 2010 § Leave a comment

Dharma, yang secara harfiah berarti sesuatu yang men-dukung, merupakan Kebenaran dalam diri kita, yang dengan berpedoman padanya dan melaksanakannya, kita dapat melintasi samudera kesulitan dan kecemasan. Dharma juga merupakan formulasi Kebenaran yang dapat kita praktekkan apabila kita tertarik untuk melakukannya. Dalam Dharma tidak ada dogma atau kepercayaan yang membuta. Seorang umat Buddha bebas untuk menanyakan semua bagian dari Dharma Sang Buddha dan sesungguhnyalah Sang Buddha pun menganjurkan hal tersebut. Tidak ada sesuatu yang terlarang untuk ditanyakan, tidak ada ajaran yang untuk itu seseorang harus menutup matanya saja dan mempercayainya secara membuta. Ini karena keyakinan (saddha) dalam pengertian Buddhis bukanlah suatu sifat yang membuta, melainkan berkombinasi dengan kebijaksanaan.

Dengan demikian, seseorang tertarik pada Dharma karena ia mempunyai sedikit kebijaksanaan untuk melihat Kebenaran di dalamnya, sementara menerima dengan keyakinan ajaran yang belum dibuktikannya. Dengan melaksanakan Dharma, ia akan ‘menjumpai bahwa Dharma itu pada kenyataannya berlaku — bahwa Dharma itu praktis (dapat dilaksanakan), dan dengan demikian keyakinannya berkembang. Dengan berkembangnya keyakinan, ia dapat melaksanakannya lebih dalam, dan dengan melakukan ini ia menyadari Kebenaran lebih jauh lagi — sehingga keyakinan berkembang menjadi lebih kuat. Demikianlah, keyakinan dan kebijaksanaan saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain dengan pelaksanaan.

Dalam hal ini, sebagaimana dalam ajaran Buddha lainnya, mudah dilihat mengapa Ajaran Sang Buddha dilambangkan dengan sebuah Roda (Dhammacakka), karena ini merupakan sebuah lambang yang dinamis. Tetapi, seseorang yang telah melihat Kebenaran Dharma dalam dirinya sendiri, telah terlepas dari segala kekotoran dan penderitaan batin, seorang Arahat, tidak lagi memiliki keyakinan karena telah memiliki sesuatu yang lebih dari itu — Kebijaksanaan yang tak tergoyahkan.

 

Pemimpin dan Pembuat Roda

February 2, 2010 § Leave a comment

Ketua Huan sedang membaca buku di ruang depan. Sedangkan si pembuat roda Pian sedang memahat roda di halaman bawah. Tak lama kemudian, si pembuat roda Pian meletakkan peralatannya dan menaiki tangga untuk bertanya kepada ketua Huan, “Bolehkah saya bertanya tentang apakah buku Yang Mulia sedang baca?”

“Orang bijak yang terkenal pada masa lalu,” jawab Pemimpin.

“Apakah ia masih hidup?”

“Oh, tidak, ia sudah lama meninggal”

“Lalu, bukankah itu artinya Ketua membaca sampah peninggalan orang yang sudah mati?”

Ketua Huan berkata, “Beraninya kamu seorang pembuat roda berpendapat tentang buku yang aku baca! Jika kamu bisa menjelaskannya, aku akan meninggalkan buku ini. Jika tidak, kamu mati!”

Si pembuat roda Pian berkata, “Dalam hidupku, aku melihat sesuatu berdasarkan pekerjaanku. Aku memahat sebuah roda. Jika aku bekerja terlalu lambat, maka pahatannya bisa meleset dan tidak bisa pas. Jika aku terburu-buru, bisa macet dan tidak bekerja dengan benar. Jika pekerjaanku benar, aku akan merasakannya di tanganku dan hatiku akan merasakannya. Aku bisa menjelaskan ini kepada anakku, tapi aku tidak bisa memberikan keterampilan ini kepadanya. Itulah mengapa pada umur tujuh puluh tahun, aku tetap membuat roda. Orang bijak tidak bisa menyampaikan kebijaksanaannya bila sudah mati. Itulah mengapa aku mengatakan jika buku yang kamu baca itu hanyalah sampah orang hebat yang sudah mati.”

“Ada pelajaran yang tidak bisa didapatkan dari buku, tapi harus belajar sendiri dari pengalaman hidup.”

 

Dananca – Berdana

February 2, 2010 § Leave a comment

“Dana” secara umum berarti member!. Tetapi, sesungguhnya dana ini juga memiliki pengertian luas. Bukan hanya semata-mata dana amal. Member! mated, hadiah tentunya diartikan sebagai dana.

Pada saat kita menyediakan makanan dan kebutuhan-kebutuhan lain kepada para bhikkhu, juga disebut “dana”. Agar memiliki keinginan untuk memberi, seseorang harus memiliki kemurahan hati dalam pikirannya. Bila ia memberi dalam keadaan terpaksa, tidak dapat dikatakan “dana” yang benar. Hal ini hanya akan menjadi kegiatan rutin. Agar tindakan memberi tersebut benar-benar bermanfaat, haruslah timbul dari pengertian yang benar mengenai dana.

Pikiran dari pemberi sangatlah penting. Seseorang harus memberi dengan perasaan senang. Agar perbuatan tersebut membuahkan hasil yang baik, keinginan yang mendasari perbuatannya haruslah benar-benar murni.

Motivasi mementingkan diri sendiri akan mengurangi kualitasnya. Jika memberi untuk mendapatkan hasil timbal balik, ini sama saja dengan transaksi bisnis, kualitas spiritualnya menjadi berkurang. Si pemberi seharusnya hanya memikirkan kebutuhan orang yang menerima. Dengan sikap tersebut perbuatannya akan bermanfaat.

Memberi tidak hanya dalam bentuk materi. Seseorang dapat mendanakan makanan, baju atau berupa barang lain yang dibutuhkan. Akan tetapi, kebajikan, juga digolongkan sebagai “dana”. Bila seseorang berbicara dengan kata-kata yang baik kepada orang lain, ini juga disebut dana. Senyum yang tulus juga salah satu bentuk dana. Memberi juga berarti pengertian sempurna. Bila kita bersedia memaafkan orang lain yang telah melakukan kesalahan, ini juga berarti kita telah melakukan “dana”.

Beberapa atasan rnenegur bawahannya dengan kasar, tetapi bila mereka melakukannya dengan baik, ini juga termasuk “dana”. Dana yang benar memberikan perasaan bahagia dan lapang kepada si penerima. Oleh karena itu kata-kata yang baik dan menyenangkan adalah dana yang besar.

Secara spiritual, umat awam berkewajiban memberikan dana kepada para bhikkhu. Ini adalah dana spiritual yang tinggi. Pada saat kita berdana materi kepada bhikkhu, kita membantu upaya mereka dalam mencapai kebebasan. Karena itu, melalui dana kita telah ikut mendukung usaha spiritual mereka.

Sebagai kaum spiritual para bhikkhu selalu memberikan nasihat dan petunjuk. Mereka mendanakan Dhamma. Ini adalah dana yang tertinggi, karena itu Sang Buddha menyatakan, “Sabba danam dhamma danam jinati,” (Dana Dhamma melebihi segala bentuk dana).

Bila setiap orang menjalani kehidupannya dengan senantiasa melakukan dana kehidupan di dunia akan sejahtera. Oleh karena itu Sang Buddha menjelaskan dana (memberi) adalah berkah utama dan membawa keselamatan. Akibat dari berdana membuahkan hasil berlipat ganda. Dalam pandangan agama Buddha dijelaskan sebagai berikut:

Pitimudaram vindati data

garavamasmim gacchati loke

kittimanantam yati ca data

vissasaniyo hoti ca data

“Pemberi dana mendapatkan kegembiraan dari hasil perbuatannya. la akan dihormati orang yang bijaksana. Nama baiknya akan dikenal luas, ia akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain, setiap orang akan menilai ia patut dipercaya”.

 

ZOOM

February 2, 2010 § Leave a comment

Baru-baru ini aku menemukan cara yang menakjubkan dalam melihat hal-hal sehari-hari. Aku menyebutnya metode “zoom dekat dan zoom jauh”. Kadang hal-hal usang yang sama terlihat seperti hal-hal yang memang usang. Kita melihat hal-hal yang tidak asing dengan kita dengan konteks yang tetap. Misalnya. kita biasa melihat meja dapur dengan tapak meja dan vas bunga di atasnya. Kita melihat hal-hal semacam itu secara kolektif. Men-zoom dekat pada hal-hal ini berarti mengamati dan melihat kelopak bunga secara rinci, mengamati pola tapak…. Dunia yang benar-benar baru terungkap — seperti mikrokosmos (alam semesta kecil).

Barangkali itu kedengaran menggelikan, tetapi aku berani bilang hanya sedikit dari kita yang benar-benar memperhatikan kain tapak meja. Apa artinya itu Artinya kita sering gagal melihat dan menghargai hal-hal rinci dalam hidup ini. Lebih penting lagi. hal itu bisa berarti kita gagal memahami cara kita mengamati segala sesuatu, gagal menyadari bagaimana pikiran kita berfungsi, beserta prosesnya, yang sering membuat kita merasa haru-biru dan terkhianati. Men-zoom hal-hal ini memiliki dampak analitik. Kontemplasi dan meditasi sesungguhnya merupakan semacam melakukan zoom spiritual, mendekat dan menjauh.

Zoom jauh memiliki efek perluasan pikiran. Jangan membiarkan lukisan “jelek” di dalam ruangan menjadi sakit mata yang luar biasa bagi Anda, merusak apresiasi Anda terhadap keseluruhan ruangan. Mundurlah beberapa langkah dan lihatlah keutuhan ruangan itu—lukisan itu bisa saja cocok di tempatnya, atau tidak penting sama sekali!

Saat merasa rendah, mungkin Anda sedang berada dalam keadaan pikiran yang terlalu zoom ke dalam dan sempit. Zoom-lah menjauh dan terbukalah! Di dalam kegelapan pada diri Anda saat ini. matahari terus bersinar dan burung masih bernyanyi! Saat merasa terlalu tinggi atau congkak, mungkin Anda terlalu men-zoom jauh kepala Anda (besar kepala). Zoom-lah mendekat dan renungkan ego Anda.

Cobalah ini—tataplah bintang-bintang di langit malam yang luas tak terbatas, sejauh yang Anda bisa (zoom jauh)… atau tataplah ranting pohon di depan muka Anda (zoom dekat). Apa yang Anda lihat? Segenap alam semesta ada di sini. Alam di dalam alam di dalam alam… tak habis-habis. Lihatlah dengan cara yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya.

 

Kisah Samgharakkhita Thera

February 2, 2010 § Leave a comment

Suatu hari, tinggallah di Savatthi, seorang bhikkhu senior yang bernama Samgharakkhita. Ketika kakak perempuannya melahirkan anak laki-laki, ia memberi nama anaknya Samgharakkhita Bhagineyya. Keponakan Samgharakkhita, pada waktu itu, juga memasuki pasamuan Sangha.

Ketika bhikkhu muda tinggal di suatu vihara desa, ia diberi dua buah jubah, dan ia bermaksud memberikan satu jubah kepada pamannya, Samgharakkhita Thera. Akhir masa vassa, bhikkhu muda itu pergi ke pamannya untuk memberi hormat kepadanya dan memberikan jubah. Tetapi pamannya menolak untuk menerima jubah itu, dan berkata bahwa ia sudah mempunyai cukup. Walaupun bhikkhu muda mengulangi lagi permintaannya, pamannya tetap tidak mau. Bhikkhu muda itu merasa sakit hati dan berpikir bahwa sejak saat itu pamannya tidak sudi untuk berbagi kebutuhan dengannya. Akan lebih baik baginya untuk meninggalkan pasamuan Sangha dan hidup sebagai seorang perumah tangga.

Dari masalah itu, pikirannya mengembara dari pikiran yang satu ke pikiran yang lain, la berpikir bahwa setelah meninggalkan pasamuan Sangha, ia akan menjual jubahnya dan membeli seekor kambing betina. Kambing betina itu akan segera melahirkan anak. Anak-anak kambing dijual dan segera ia akan mempunyai uang cukup untuk menikah. Isterinya akan melahirkan seorang anak laki-laki. la akan membawa isteri dan anaknya dengan sebuah kereta kecil untuk mengunjungi pamannya di vihara. Dalam perjalanan, ia akan berkata bahwa ia akan menggendong anaknya. Tetapi isterinya berkata kepadanya agar ia mengendarai kereta saja dan jangan mengurusi anak. la bersikeras dan merebut anak dari isterinya. Sewaktu terjadi perebutan, anak itu terjatuh dan terlindas roda kereta. Dengan marah ia memukul isterinya dengan cemeti.

Pada saat itu ia membelakangi pamannya dengan memegang kipas daun palm dan ia dengan tidak sengaja memukul kepala pamannya dengan kipasnya. Samgharakkhita tua mengetahui pikiran bhikkkhu muda itu dan berkata, “Kamu tidak sanggup menghajar isterimu; mengapa kamu menghajar seorang bhikkhu tua?” Samgharakkkhita muda sangat terkejut dan malu atas kata-kata bhikkhu tua itu. la juga menjadi sangat ketakutan dan kemudian melarikan diri. Bhikkhu-bhikkhu muda lainnya dan penjaga vihara mengejarnya dan akhirnya membawanya ke hadapan Sang Buddha.

Ketika membicarakan seluruh kisah bhikkhu muda itu, Sang Buddha berkata bahwa pikiran memiliki kemampuan untuk berpikir pada suatu objek yang berkepanjangan, dan seseorang seharusnya berusaha keras untuk bebas dari belenggu nafsu keinginan, kebencian, dan kegelapan bathin.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini:

Pikiran itu selalu mengembara jauh, tidak berwujud, dan terletak jauh di lubuk hati. Mereka yang dapat mengendalikannya, akan bebas dari jeratan Mara.

Bhikkhu muda mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

 

Kata-kata perenungan

January 24, 2010 § Leave a comment

Menghargai diri sendiri

Orang yang rendah hati adalah orang tahu menghargai dirinya sendiri.

Berkesan di dalam hati orang

Usaha kita untuk mengalah harus bisa terlihat oleh mata dan terdengar oleh telinga orang lain; jangan hanya tidak menyakitinya, juga harus dapat berkesan dalam hatinya.

Berani mengemban tugas

Hanya sebutir pasir halus saja terasa menusuk kaki, sebuah batu kecil saja sudah terasa menusuk hati. Bilamana menghadapi masalah, apakah sanggup bertanggung jawab.

Mengecilkan ego

Mengecilkan ego itu bijaksana. Membesar-besarkan diri sendiri itu, kemelekatan.

 

Tanya Jawab dengan Bhikkhu Uttamo

January 24, 2010 § Leave a comment

Dari: Pannasagara, Denpasar

Bhikkhu Uttamo

Namo Buddhaya Bhante.

Kalau menurut Buddha Dhamma memory ada di bahagian mana di batin? Kesadaran, atau pencerapan atau perasaan atau salah satu dari bentuk-bentuk pikiran?

Kalau di badan adakah salah satu organ kita yang dapat di acu sebagai tempat memory kita? Saya membaca beberapa riset orang yang cangkok jantung dari orang lain membawa kebiasaan/sifat/ dan juga ingat beberapa pengalaman dari pemberi jantung tersebut ketika masih hidup. Terima kasih atas jawabannya

Jawaban:

Dalam Dhamma, manusia terdiri dari badan dan batin. Batin terdiri dari perasaan, pikiran, ingatan dan kesadaran. Dari pengertian ini, bisa dimengerti bahwa memory terletak pada ingatan atau dalam istilah Palinya di kenal dengan sannya.

Selain itu, dalam Dhamma tidak disebutkan letak batin tersebut pada organ tubuh tertentu suatu makhluk, sehingga mungkin bisa saja terjadi kasus cangkok jantung yang bisa mengakibatkan bertambahnya kebiasaan ataupun sifat dari donor pada yang menerima cangkok tersebut.

Semoga keterangan ini dapat memberikan manfaat Semoga bahagia.