Metta Vihara dalam kenangan

March 26th, 2008 § 5 Comments

( Mutiara Dhamma XVI )

 

Tulisan ini disusun dalam rangka memperingati Ulang Tahun ke 7 dimulainya kegiatan Metta Vihara di jl. Udang 8 Tegal.

 Sekitar tahun 1958  tokoh tokoh agama Buddha  di kota Tegal   yang terdiri dari :

mendiang Bapak Kho Tjie Hong, Bapak Ha A Teng, Bapak Lauw Djien Hien, Bapak Ie Gie,  Bapak  Liem Oen Hiap, ,  Bapak Oey Tjin Lie, Bapak Liem Swan Ie dll

mendirikan sebuah Cetiya  yang diberi nama  Tipadma , yang terletak di jl. Udang Tegal merupakan embrionya Metta Vihara, umatnya terus berkembang dengan pasang surut. Menurut Bapak Tan Kiam Soen Metta Vihara diresmikan oleh Bhikkhu Narada Mahathera dari Sri Langka bersama Bhikkhu Khemasarano pada 12 Desember 1969 di Jl. MT Haryono 22 Tegal, berkat bantuan Bapak/Ibu Oei Tju Siong pada waktu itu umat Buddha Tegal diperkenankan memakai salah satu gudang milik Kel. Mendiang Bapak Tan Tjie Heng  untuk dijadikan sebuah Vihara, Walaupun bangunan tersebut hanya sebuah gudang tapi bagi kami sudah lebih dari cukup karena jasa yang luar biasa kami diperkenankan menggunakan bangunan tersebut lebih dari 30 tahun, Bapak Tan Kiam Soen dan Bapak Liem Peng Liat merupakan sesepuh saksi hidup perjalanan panjang  Metta Vihara. Dengan sarana yang sangat sederhana Buddha Dhamma terus berkembang   agama Buddha menjadi mata pelajaran disekolah, serta bisa mementaskan pentas seni Setetes darah untuk Mira, juga Drama Bhikkhuni Subha, kala itu yang menjadi penggerak  adalah :

Ibu Ha Sin Ming ( Ibu Ratna Siri ), Ibu Souw Swan Yoe ( Bu Ning ), Ibu Tjioe Tiang Giok, Bapak Tan Peng Le, Bapak Hok Sioe, Bapak Liem Oen Hiap, Bapak Liem Peng Liat, Bapak Yo Tjin Kwie, BapakTan Hok Liang , Ibu Gan Tju Lan, Ibu Tan Sian Liang, Bapak Kam Hap An dll.

Pada tahun 1976 Metta Vihara terbengkalai, tak ada umat yang datang selain Bapak Tan Kiam Soen yang tetap dengan rajin merawat Vihara yang terbengkalai, melihat semangat Bapak Ariyaji dan Bapak Soeharto T dalam kondisi yang serba sulit tetap setia memberi pelajaran Agama Buddha di Sekolah, sehingga mendorong semangat muda siswa SMA Negeri I Tegal untuk menghidupkan  kembali kegiatan di Metta Vihara Tegal, pada  tahun 1977 dengan dirintis oleh  :

 

Oey Kiem Siong, Kam Hok Seng, Oen Siauw Fung,Tan Beng Liang,

Liem Lay Sin (Elsye), Phang Siau Lie dll.

Dengan semangat mudanya Metta Vihara dibuka kembali, Buddha Dhamma  bersinar menerangi Kota Tegal, dengan bimbingan oleh :

 Ibu Ratna Siri didukung oleh Alm. Bapak Liem Oen Hiap dan Alm.           Bapak Sauw Hway Hien, Alm. Bapak Yo Tjin Kwie dll

Pada tahun 1978  pergantian estafet kepemimpinan terjadi karena tuntutan mengejar ilmu pengetahuan perintis kebangkitan Metta Vihara pergi meninggalkan kota Tegal untuk kuliah digantikan oleh:

Phang Sioe Heng, Tan Kwie Hiang, Lie Lie Tjoe, Wenny Oen, Lie Tjing Sioe, In Siok Yan, Tjeng Siok Djee, Ham Tjay Lien,  Lie Ing Tjong, Oey Tat Beng, Oen Siauw Ming, Liem Tjwan Seng, Khoe Nan Hing Thio Hiong Djien dll

Estafet  kepemimpinan  kali ini mendapat bimbingan dari  para sesepuh yang terdiri dari :

Mendiang Bapak  Liem Kwat Eng, Almh. Ibu Liem Thek Shie, Almh. Ibu Khouw Tjwan Kiang, Almh Ibu Liem Kiem Eng, Ibu Yap Tjay Bie, dan Ibu Ha Sin Ming juga seorang tokoh yang bertemperamen keras membimbing kami sebagai ketua Metta Vihara dari th1978 sampai th1996, Yaitu Mendiang Bapak ONG SIAN KIEN.

          Dengan gigih dan berani Alm. Bapak Ong Sian Kien merubah vihara yang remang remang dengan penerangan petromaks, dibantu Almh. Ibu Kho Kiat Sioe dan Ibu Tan Li Li menjadikan Metta Vihara yang terang benderang karena listrik masuk Metta Vihara, Tanpa mengenal lelah sejak th 1978 sampai th 1996 beliau  telah berhasil menjaga Metta Vihara tetap terbuka dan Sinar Dhamma terus bersinar di kota Tegal sampai  sekarang, dengan menyusun aturan organisasi yang dituangkan dalam akta notaris  Yayasan, dengan menghasilkan pemuda yang potensial berkembang menjadi tokoh pemuda diluar kota walau hanya dengan Vihara yang amat sangat sederhana nyaris tak layak disebut sebuah Vihara.

Mendiang Bapak Ong Sian Kien memimpin  Metta Vihara sebagai ketua sejak th 1978 sampai th 1996, Th 1996 – th 2002  digantikan oleh Bapak Lie Hok Thay, th 2002 – th 2003  digantikan oleh Almh. Ibu Sri Rejeki Kusnandar (Tjang Fan Foe)  setelah beliau meninggal digantikan oleh Ibu Tan Li Li th 2003 – th 2007 dan sekarang yang menjadi Ketua adalah Bapak Johnny Wijaya ( Wen Wei Chen ) th 2007 -2009.

 Pada tahun 1993 atas saran Bhikkhu Sri Pannavaro di Vihara Mendut sewaktu tokoh – tokoh Umat Buddha Metta Vihara berkunjung ke Vihara Mendut. Agar cita – cita umat Buddha Metta Vihra Tegal dapat terwujud yaitu  keinginan memiliki vihara sendiri, maka sebagai langkah awal adalah mendirikan Yayasan sebagai Badan Hukum yang mengelola Mrtta Vihara, sehingga mempermudah dalam usaha merealisasikan cita cita luhur memiliki Vihara sendiri.

Dalam rangka merealisasikan pertemuaan di Vihara Mendut Tokoh – tokoh umat Buddha Metta Vihara yang terdiri dari :

Bapak Oen Long Ho, Alm, Bapak Ong Sian Kien, Bapak Tjoa Tjong Hauw, Bapak Lie Hok Thay, Bapak Johnny Wijaya, Bapak Lie Ing Beng , Bapak Lie Khing Vong,  Bapak Oen Thay Fuk, Bapak Lie Tjien Ding, Bapak Lie Ing Tjong, , Bapak Lie Ing Chie, Ibu Tan Li Li, dll

Disepakati membentuk satu Yayasan yang selanjutnya diberi nama oleh Bhante Sri Pannyavaro , Yayasan Metta Jaya yang merupakan Badan Hukum yang mengelola Metta Vihara Tegal,  dengan pendiri Sbb :

1.   Alm. Bhikkhu Khemasarano Mahathera

2.   Bikkhu Sri Pannavaro Mahathera

3.   Bikkhu Uttamo Mahathera

4.   Bhikkhu Jotidhammo Mahathera

5.   Bhikkhu Jayasiriko

6.   Bapak Oen Rianto / Oen Long Ho

7.   Alm. Bapak Koasajaya Nataputra / Ong Sian  Kien

8.   Bapak Adrianto Gunawan / Lie Hok Thay

9.   Bapak Istanto Sulistio / Lie Ing Tjong

Bhikkhu Khemasarano telah tiada, Bhikkhu Jayasiriko telah lepas jubah demikian juga Bapak Ong Sian Kien telah tiada. sehingga Badan pendiri Yayasan Metta Jaya tinggal 6 Orang. Bhikkhu Khemmasarano  adalah  Orang pertama yang menjadi ketua Yayasan Metta Jaya th 1993 – th l996 , Th 1996 – th 1999 digantikan oleh Bapak Oen Rianto, Th 1999 – th 2006 digantikan oleh Bapak Adrianto Gunawan dan sekarang  Bapak Lukman Susilo Th 2007 – 2012.

Pada tahun 1996 Yayasan Metta Jaya membentuk Panitia Penghimpunan Dana Pembangunan Metta Vihara, dengan menyelenggarakan arisan berhasil menghimpun dana , sehingga pada tahun 1999 berhasil membeli sebidang tanah di Jl. Udang tegal,  kemudian Oktober tahun 1999 dilaksanakan upacara peletakan batu pertama sebagai awal dari dimulainya pembangunan Metta Vihara Tegal yang telah lama diidamkan, hingga pada tanggal 21 Maret 2001 dengan prosesei dilaksanakan pemindahan Ruphang Buddha Gautama dari Jl. Mt Haryono menuju jl. Udang merupakan awal dari dimulainya kegiatan pengembangan Buddha Dhamma di Jl. Udang dan pada 22 Juli 2001 selesai sudah proses pembangunan  Metta Vihara , peresmian terlaksana dengan meriah dihadiri Oleh Walikota Tegal Bapak Adi Winarso.. Kini tantangan telah menanti kita untuk memelihara Vihara tercinta yang kita bangun dengan susah payah .

Tidak kita pungkiri jasa yang luar biasa dari mendiang Ibu Sri Rejeki Kusnandar/Tjang Fan Foe, Karena beliau dengan gigih pantang menyerah berusaha agar Yayasan mampu membeli sebidang tanah, tidak segan segan beliau meluangkan waktu, tenaga dan tidak sedikit dana yang beliau kucurkan  juga mampu menggalang dana dari saudara, teman juga relasinya, sehingga Metta Vihara bisa berdiri dengan megahnya di Jl. Udang No. 8 Tegal, sayang Ibu Sri Rejeki Kusnandar Wanita yang luar biasa hanya mengantarkan umat Buddha Metta Vihara Tegal bisa berdiri dengan tegak, tetapi tidak ikut menikmati apa yang telah dirintisnya.  tidak menghilangkan jasa dari umat lainnya seperti Bapak Lie Hok Thay yang dengan kemampuannya dapat menggambar Metta Vihara, Bapak Wen Wei Chen, Ibu Sauw Swan Yoe, Bapak Lie Ing Beng, Bapak M. Wondo Bapak Lie Ing Chie Bapak Unang Gautama ,Bapak Yo Yoe In, ibu Tan Li Li dll, karena kerja sama yang sangat baik bahu membahu saling mengisi kekurangan semuanya terlaksana dengan baik. Namun kegembiraan umat Buddha Metta Vihara tak berlangsung lama, pada tahun 2003 Metta Vihara kehilangan putra terbaiknya, karena Ibu Sri Rejeki Kusnandar pergi untuk selama-lamanya tak pernah kembali, Awan kelabu mulai menyelimuti Metta Vihara, Memang hidup tidak menentu selalu berubah, senang susah, sedih gembira , sakit sehat, datang silih berganti, badan kita yang kotor ini juga akan hancur, apalagi kedudukan, semuanya akan berlalu  karena kehidupan terus berputar tidak menentu bagaikan roda. Yang pasti adalah kematian, semua yang terlahir pasti akan mengalami kematian.

Sementara kita surut ke belakang menyusul diberlakukannya UU No. 1 tahun 1974 yaitu UU yang mengatur perkawinan. Sekitar tahun 80-an kewenangan melaksanakan UU No. 1 tahun 1974 yaitu melaksanakan pemberkatan pernikahan dan membuat surat keterangan nikah merupakan salah satu tugas Pandita, karena Bhikkhu menurut peraturan / Vinaya tidak diperkenankan menikahkan umat. jumlah Bhikkhu tidak sebanding dengan jumlah Vihara di seluruh Indonesia maka Pandita merupakan pembantu Bhikkhu dalam mengembangkan Buddha Dhamma   Majelis Pandita Buddha Dharma Indonesia (Mapanbudhi) sekarang menjadi Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi), adalah organisasi/wadah bagi pandita mazab Theravada, yang berwenang mengangkat PANDITA  Agama Buddha  Mazab Theravada, melalui kursus yg diselenggarakan oleh pengurus Pusat. Diusulkan oleh Pengurus Cabang Magabudhi dari umat Buddha setempat yang bersedia dan memenuhi persyaratan tertentu untuk mengikuti kursus Pandita. Metta Vihara adalah Vihara binaan STI jadi pelaksanaan pernikahan yang benar harus dipimpin oleh seorang Pandita yang  memiliki Sertifikat. Surat Keterangan Nikah di Metta Vihara Tegal dikeluarkan MAGABUDHI PC KOTA TEGAL. Pada th 86 dari Tegal dikirim mengikuti Kursus Pandita yaitu Bapak Ratna Dharma Agus Sukamto dan Upasaka Suriyadhammo / Lie Ing Tjong sebagai Pandita muda, sekarang Romo Ratna Dharma Agus sukamto telah menjadi pandita,  tingkatan jenjang kepanditaan  adalah  Upacarika, yang bertugas mempin upacara  setelah 2 th upacarika dapat diuusulkan menjadi Pandita muda, 5 th kemudian baru diangkat menjadi Pandita Madya, baru bisa menjadi  Pandita. Sesungguhnya Pandita bukanlah kedudukan atau pangkat melainkan menjadi Pandita merupakan sebuah tanggung jawab menjadi teladan dan pengabdian, hanya sedikit orang yang mau menjadi Pandita.

Yayasan Metta Jaya merupakan badan hukum yang menaungi kegiatan di Metta Vihara.sehingga segala ketentuanya mengikuti aturan hukum yang berlaku.  Sangha Theravada Indonesia adalah organisasi atau wadahnya Bhikkhu  bermazab Theravada, Metta Vihara merupakan salah satu Vihara dalam binaan Sangha Theravada Indonesia.

Akta Notaris No, 34 tertanggal 16 eptember 1993 Pendirian Yayasan Metta Jaya Pasal 5 Badan Pengurus terdiri dari seorang ketua, seorang atau lebih wakil ketua, Bendahara, sekretaris dan anggota. Badan Pengurus diangkat untuk masa 3 tahun  oleh Badan Pengawas yayasan. Badan Pengurus dapat diberhentikan setiap waktu oleh badan Pengawas berdasarkan  rapat Badan Pengawas.jika terjadi lowongan anggota badan Pengurus  untuk mengisi lowongan sampai sisa jabatan, Badan Pengurus dapat mengajukan calon kepada Badan Pengawas tanpa mengurangi hak dari Badan Pengawas untuk menunjuk orang lain. Pasal 11. Badan Pengawas terdiri dari mereka yang mendirikan Yayasan Metta Jaya. menurut UU Yayasan yang berlaku sekarang wewenang Mengangkat dan memberhentikan Badan Pengurus ada pada Badan Pembina. Pada pertengahan tahun 2006 masa bakti Badan Pengurus Yayasan Metta Jaya sudah habis dan tidak memiliki Sekretaris karena meninggal,jadi tidak dibenarkan kalau ada pengisian kekosongan sekretaris tanpa sepengetahuan Badan Pengawas.   Pada tanggal 2 Juli 2007 diadakan rapat Badan pengawas yayasan,    yang dihadiri oleh:

 YM. Bhikkhu Jotidhammo Mahathera dengan memegang Kuasa dari    2 Orang Bhikkhu Yang tidak dapat hadir, Bapak Lie Hok Thay dan Bapak Lie Ing Tjong, sedang Bapak Oen Rianto berhalangan hadir.

         Sesuai ketentuan yang berlaku rapat memenuhi quorum untuk merubah anggaran dasar yayasan Metta Jaya. Dalam pertemuan  disepakati perubahan anggaran dasar Yayasan mengikuti Ketentuan  UU Yayasan yang berlaku sekarang. Kemudian dibentuklah pengurus Yayasan Metta Jaya  dengan periode 2007 – 2012. Dikarenakan susunan pengurus belum lengkap  maka Badan Pengawas yayasan Metta Jaya sepakat menyerahkan penyusunan pengurus baru kepada personil pengurus yang terpilih dan keputusan rapat dapat ditanda tangani bersama. Pergantian Pengurus  Yayasan Metta Jaya  masa bakti 2007 – 2012 sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. bukan melalui  kompromi dengan umat Vihara.

Yayasan tidak Memiliki anggota jadi yang berwenang mengangkat pengurus Yayasan adalah Badan Pengwas  atau menurut aturan yang berlaku sekarang adalah Badan Pembina Yayasan. Selanjutnya Pengurus Yayasan berwenang mengangkat seorang Bhikkhu Menjadi kepala Vihara dengan menerima masukan dari Sangha THERAVADA INDONESIA ( Organisasi yang beranggotakan para Bhikkhu ) , Kepala Vihara dengan diibantu Magabudhi, Wandani, Patria, dan tokoh Vihara membentuk  pengurus/ Dayakasabha Vihara, Dapat juga Pengurus Yayasan tidak Mengangkat Kepala Vihara, tetapi langsung membentuk Pengurus/Dayakasabha Vihara. Pengurus Yayasan sama sekasli tidak mempunyai wewenang mengangkat seorang Pandita apalagi Pemuka Agama Buddha, karena yang disebut Pemuka agama Buddha adalah BHIKKHU DAN PANDITA, untuk menjadi seorang Pandita maupun seorang Bhikkhu sudah ada tata caranya, tidak sekedar mengeluarkan secarik kertas dan cap stempel belaka. Pengurus/ Dayakasabha Vihara adalah Tokoh/umat yang diberi kepercayaan memimpin/memelihara dan melayani umat Buddha, menjadi seorang Ketua Dayakasabha tidak otomatis dia bisa menjadi seorang pemuka agama, struktur organisasi yang telah tersussun rapi secara nasional tentunya harus kita jaga agar umat dapat melaksanakan ibadah dengan tenang.

Lebih dari 40 tahun umat buddha Tegal memimpikan sebuah bangunan Vihara yang indah dan layak disebut Vihara, setelah kita berhasil membangun sebuah Vihara yang indah akankah kita menghancurkan??? Meninggalkan??? Menelantarkan ??? apapun alasannya itu adalah tindakan yang tidak bijaksana, apa tujuan kita ke Vihara ?, kita tidak mau berdana ke Vihara hanya karena pergantian penguerus siapakah yang rugi ??? apakah Pengurusnya Yang rugi ??? tidak yang rugi adalah diri kita sendiri karena kita telah kehilangan kesempatan berbuat baik. Marilah kita jaga kita pelihara Metta Vihara yang kita cintai dengan segala ketulusan. Kita  menjadi pengurus Vihara bukanlah menjadi pemilik ataupun  penguasa melainkan menjadi pelanyan dan penjaga Vihara.  Bagaimanapun sulitnya membangun Vihara , tetapi jauh lebih sulit  adalah memlihara dan merawat Vihara yang kita cintai.

  Kamma yang kita lakukan  tidak akan hilang, kamma dengan setia akan mengikuti kita kemanapun kita pergi, walaupun  masuk keliang kubur kamma akan tetap setia mengikuti  kita pergi. Sekecil apapun dana yang kita berikan untuk Vihara kita akan menerima buahnya, kamma  tidak dapat dihapuskan oleh siapapun, termasuk oleh Pengurus Vihara, yang jelas kita sudah punya cettana/kehendak untuk berdana ke Vihara, sudah kita lakukan, walau hanya satu buah bata tetap ada nilainya, yang penting kita tulus dan bahagia sebelum,  saat dan setelah  berdana. janganlah merasa kecewa dan  berhenti berdana hanya karena tidak suka dengan pengurus Vihara, terlebih kalau kita hanya ikut ikutan teman untuk berhenti berdana pada Vihara , jangan kita buang kesempatan berbuat baik di Vihara hanya karena tidak suka pada pengurus Vihara karena kita sendiri yang akan rugi. Vihara bukan milik pengurus  tetapi milik kita bersama.  

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Bapak/Ibu/Saudara  maaf kalau penulisan ini kurang lengkap karena keterbatasan data, dan penulis hanya menghimpun cerita dari mulut ke mulut saksi hidup yang pernah dijumpainya. Penulis berharap agar jalinan persaudaraan yang erat dapat dijaga,  demi memelihara metta Vihara tercinta yang telah kita bangun dengan susah payah dan cucuran keringat, marilah kita sisihkan kepentingan pribadi demi menjaga Metta Vihara Tegal yang kita cintai .

Semoga Metta Vihara tetap jaya  untuk selama lamanya.

Semoga semua makhluk berbahagia                              

Oleh : Suriyadhammo

§ 5 Responses to Metta Vihara dalam kenangan

  • dharmamitra says:

    nice story..
    denger2 ada perpecahan ya di MV…

  • elisa says:

    kepada bapak suriyadhammo…memang terkadang dalam suatu organisasi.. tidaklah seindah yang kita rencanakan.masih banyak orang orang yang memanfaatkan kesempatan dibalik kesempitan. dalam hal ini, apakah hal yang bijaksana, jikalau didalam suatu organisasi seperti metta vihara, terjadi permusuhan dan kericuhan antar pengurus? semua permasalahan begitu rumit dan runcing yang dimana itu tidak perlu saya beberkan di email ini.karena itulah, kami, warga umat budha tegal yang masih benar benar ingin dengan tulus mengembangkan agama budha memilih untuk mengalah dan keluar dari metta vihara, dengan harapan pengurus metta yang baru akan lebih bahagia tanpa kami.dan kami pun sepakat untuk mendirikan meditation centre. bukan untuk menyaingi atau pun untuk apapun itu.. kami hanya ingin sebuah tempat yang nyaman, tanpa pertengkaran, dan benar benar tulus mengembangkan agama budha tanpa pamrih. bukankah tujuan kita ingin mencapai nibana?ingatlah pesan sang budha bergaulah dengan orang yang bijaksana dan patut dihormat.terima kasih sebelumnya dan maaf jikalau ada kata yang menyinggung.

  • Suriyadhammo says:

    Kepada Ibu Elisa yang kami hormati, Namo Buddhaya ,

    Merupakan satu kebahagiaan bagi kami mendapat tanggapan yang positip dari anda! Memang didalam satu organisasi apapun pasti ada perbedaan pendapat,makin besar suatu organisasi semakin banyak orang berkecimpung didalamnya, maka akan semakin banyak permasalahan dan perbedaan pendapatitu adalah wajar. Kalau semua perbedaan pendapat ditanggapi dengan positip demi kemajuan satu organisasi,dengan berpegang pada aturan yang ada,saling menghormati tanpa kebencian maka akan dicapai satu kesepakatan dengan mengutamakan kebersamaan maka perbedaan pendapat terasa menjadi indah , permusuhan dan perpecahan tidak akan terjadi.
    Kami sangat menghargai tujuan mulia pendirian MC, dengan tulus untuk mencari kenyamaan dalam beribadah, doa kami menyertai anda dalam menggapai tujuan luhur
    tersebut.
    semoga di masa mendatang kita bisa bahu membahu dalam mengembangkan Buddha Dhamma yang kita cintai.
    semoga semua makhluk berbahagia.

  • metta jaya says:

    ibu Elisa, Namo Buddhaya

    Merupakan suatu karma baik bisa mendapatkan tanggapan dari anda. Perkenankan kami dari Yayasan Metta Jaya menyampaikan pendapat kami pada anda. Di Metta Vihara tidak ada permusuhan dan kericuhan antar pengurusnya. Perbedaan pendapat ada, tetapi dapat dimusyawarahkan dan diselesaikan secara kekeluargaan.

    Menurut hemat kami kenyamanan di suatu tempat datang dari lubuk hati masing – masing. Sebagai contoh saya merasa nyaman di tempat ini, tetapi dilain waktu belum tentu saya merasa nyaman di tempat yang sama. Jadi kesimpulannya masalah kenyamanan ada pada diri kita masing – masing.

    Pengangkatan pengurus Yayasan Metta Vihara merupakan wewenang badan pembina yayasan. Kami hanya mengabdi dan melaksanankannnya dengan bijak penuh tanggungjawab sesuai ajaran Budha Dhamma. Semoga semua mahluk berbahagia.

  • Slamet says:

    to : Meditation Centre & Metta Vihara .
    alih alih mengembangkan agama Buddha, yang terjadi adalah keinginan mengembangkan diri sendiri atau egoisme, menunjukkan pada dunia luar SIAPA AKU, supaya dipuja dan dipuji, katanya tidak melekat tapi lemnya super glue. Saya yg bukan beragama Buddha jadi ingin bertanya “PANTASKAH KALIAN MENJADI PENGURUS ORGANISASI KEAGAMAAN” sedangkan kenyataannya kalian hanyalah orang kerdil yang berpikiran picik, tidak lebih dari kumpulan orang SOK, SOMBONG, & EGOIS. Yang pada akhirnya hamya bisa membuat bingung umat Buddha di Kota Tegal. Salam Damai. Semoga pikiran kalian terbuka dan insyaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Metta Vihara dalam kenangan at Brivi Tegal.

meta

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.